ANARKI
RIAUPOS > Wednesday, 9 Mar 2011 | Posted by IDRIS
Dalam kehidupan sehari-hari, anarki sering digunakan untuk menggambarkan perbuatan sekelompok orang yang melakukan pemaksaan atau kekerasan pada pihak lain yang dapat menimbulkan kerusakan harta-benda atau korban manusia.
Tindak kekerasan bisa terjadi apabila orang dengan persepsi dan perasaan yang sama akan sesuatu seperti pendukung tim sepakbola, penonton konser, dan unjuk rasa, berkumpul dalam jumlah yang banyak.
Lalu mereka terprovokasi untuk berhadapan dengan pihak lain, bahkan dengan aparat keamanan.
Jika kita perhatikan kemungkinan terjadinya, selain tergantung pada kualitas penegakan hukum yang ada, dipengaruhi pula oleh tingkat intelektualitas, lingkungan sosial-budaya, dan kelompok usia.
Makin tinggi atau baik tingkatan itu, makin kecil pula kemungkinan orang melakukan tindak anarki.
Karena itu di negara-negara maju orang yang suka melakukan kekerasan dianggap rendah karena lebih pandai menggunakan tangannyanya dibandingkan kepalanya.
Di negeri kita, anarkisme menjadi tontonan sehari-hari yang dipicu antara lain oleh perselisihan antar-umat beragama, salah paham antar-kampung, saling ejek para pemuda, saling senggol dalam konser, atau unjuk rasa yang tak tersalurkan dengan baik.
Anarkisme juga bisa terjadi berupa perkelahian antar-mahasiswa di kampus yang sama, antar-kampung secara turun temurun, atau oleh pendukung tim sepakbola yang kalah terhadap objek atau orang yang mereka temukan (hooliganisme).
Melihat cara-cara dan senjatanya, kita bisa merinding karena sangat membuka terjadinya kerusakan berat harta benda, cedera parah, atau korban nyawa manusia. Anarki juga bisa dalam bentuk lain seperti vandalisme dan graffiti.
Mungkin ada yang merasa bangga ketika merusak fasilitas umum atau menganggap coret-moret tembok umum itu sebagai sebagai kreativitas, tapi secara jujur kita tidak suka jika rambu lalu-lintas hilang dan WC umum atau tembok pagar kita penuh graffiti. Yang pasti semua anarkisme adalah akhlak yang buruk.
Buruknya akhlak kolektif anak bangsa itu bisa jadi karena himpitan hidup, ketimpangan sosial, ketiadaan keteladanan, kelemahan penegakan hukum, atau berbagai kebobrokan?
Mungkin para sosiolog dan psikolog lebih dapat menjelaskan hal ini serta para alim-ulama dapat melihat kekosongan rohani generasi muda sekarang.
Yang jelas kita wajib memperbaikinya yang bisa dimulai dari menentukan batasan kekerasan sebagai titik acuan dan membuat roadmap rencana tindak dengan baik dan lengkap.
Jika tidak, kita akan melahirkan lost generation masa datang, itu pun kalau negeri ini belum kiamat karena anarkisme yang masif.
TSUNAMI
RIAUPOS > Wednesday, 16 Mar 2011 | Posted by IDRIS
Kami para anak murid hanya bisa membayang-bayangkan saja bagaimana besar dan daya rusaknya gelombang tsunami karena terbatasnya informasi dan bahan ajar ketika itu.
Kebetulan pula, barulah tahun 2004 kita mengalami terjadinya tsunami di Aceh yang memakan korban sekitar 250 ribu jiwa. Dan Jumat (11/3) lalu terjadi lagi di Timur Laut Jepang.
Dalam bahasa Jepang tsunami adalah ombak besar di pelabuhan. Dalam keilmuan berarti gelombang akibat gempa dengan episentrum di laut, baik karena letusan gunung api maupun gempa tektonik.
Yang menimbulkan tsunami adalah gempa akibat pergesaran lempeng kontinen dengan gerakan vertikal sehingga terjadi perubahan volume air laut secara mendadak.
Gelombang yang dengan energi besar sekali ini merambat dengan cepat dan tinggi yang lebih dari gelombang badai yang akan bertambah tinggi ketika mendekat ke pantai karena dangkal.
Energi dan volume air yang sangat besar inilah yang menerpa apa saja yang dilalui. Bila daerah itu tidak terlindung barrier atau sudah terkena dampak gempa yang mendahului, maka akibat gelombang tsunami akan sangat parah sebagaimana yang terjadi di Aceh dan Jepang hari Jumat lalu.
Jika dibandingkan dengan di Aceh, di Jepang korban manusia jauh lebih sedikit. Jepang memang sudah terbiasa dan banyak pengalaman dengan gempa dan tsunami.
Terlihat di televisi bagaimana orang-orang Jepang terlihat relatif tenang ketika melakukan langkah penyelamatan. Dilaporkan juga bagaimana mereka tetap tertib untuk naik bis meskipun bumi sedang berguncang.
Setelah terjadi gempa dan tsunami pun pembagian air bersih, pembelian bahan makanan, di stasiun bahan bakar dapat berjalan tertib serta tidak terdengar adanya penjarahan.
Ini tentu bukan hasil dari satu dua hari. Pemerintah dan segenap komponen masyarakat di Jepang cukup memahami antisipasi bencana alam. Tata ruang dan bangunan sudah mengacu pada keperluan itu; rumah-rumah penduduk dibangun jauh dari pantai dan infrastruktur dibangun dengan memperhatikan kemungkinan bencana.
Program mitigasi bencana sudah menghasilkan kesiapan menghadapi bencana, tanggap darurat, dan pemulihan. Pemahaman ini sudah masuk dalam kurikulum sehingga anak-anak sekolah dan masyarakat memahami standart operating procedures (SOP) menghadapi bencana.
Sebagai contoh, ketika ada gempa dengan tenang mereka akan berlindung ke bawah meja, menjauhi dinding kaca, atau mendekat ke bagian pojok di dekat tiang yang kokoh.
Momentum ini, sepatutnya jadi hikmah bagi kita. Selain untuk introspeksi sikap dan perilaku diri dan kolektif, juga untuk mengingatkan apa yang belum kita lakukan untuk mengantisipasi bencana. Naudzubillahi, semoga kita senantiasa terhindar dari berbagai bencana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar