CALO ATAU PENYELAMAT
RIAUPOS > Tuesday, 15 Mar 2011 | Posted by ADMIN
Baru-baru ini setiap hari koran menyajikan antre minyak di setiap SPBU di Riau yang kaya minyak ini. Kenapa? Karena ketidakpastian stok BBM. “Ya mau bagaimana lagi Pak, kalau tidak ngantre seperti ini, kita tidak kedapatan bensin,” keluh Rudi supir saya ini. Lain lagi dengan kisah Amat “Untuk mengindari antrean panjang, saya biasanya membeli BBM pada pukul 03.00 WIB. Ya saya terpaksa belakangan ini bergadang demi mendapatkan premium. Karena kalau pagi hingga petang saya tidak sabar menunggu karena panjangnya antrean. Kalau tengah malam, memang mengantre, tapi tidak separah siang hari”. Kelangkaan BBM di Riau terjadi sudah lima hari belakangan ini. Bahkan untuk harga eceran harganya sudah mencapai Rp25 ribu per liter di mana harga normal dari Pertamina hanya Rp4.500.
Apa alasan Pertamina? Kelangkaan premium di area Pekanbaru dan sekitarnya karena kedatangan kapal tanker penyuplai premium ke Depot Pertamina Siak tidak sesuai Jadwal, ada pula lagi karena pengetatan quality control BBM jenis premium.
“Kalau begini tanda-tanda apa ni Ngah?”. Negara ini tak lagi pernah becus mengurus rakyatnya.
Antre BBM ini tidak hanya terjadi di Pekanbaru. Memang yang paling parah terkena dampak kelangkaan BBM ini adalah warga Rengat. Harga bensin di tingkat pengecer meroket hingga Rp30 ribu per liter. Melambungnya harga BBM ini amat menganggu aktifitas masyarakat. Disperindag pun mengambil langkah catat plat mobil, antisipasi aksi jual kembali ke masyarakat. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Indragiri Hulu terpaksa mencatat nomor polisi kendaraan roda empat yang antre BBM jenis premium di SPBU. Langkah ini terpaksa dilakukan karena Disperindag mensinyalir banyak kendaraan roda empat digunakan oknum tertentu untuk melansir BBM. Dampaknya antrean masih tetap panjang, padahal pasokan BBM dari Pertamina sudah normal.
Berdasarkan laporan masyarakat dan pemantauan kita beberapa hari ini dilapangan, disinyalir banyak oknum yang memanfaatkan situasi dengan melansir BBM di SPBU. Mereka menggunakan kendaraan roda empat. Dampaknya kebanyakan yang antre orangnya atau kendaraannya itu-itu saja.
Selain mencatat nomor polisi kendaraan roda empat petugas dari Disperindag Inhu juga melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pedagang BBM eceran yang ada di Rengat. Pada sidak tersebut petugas Disprindag yang dibantu Satpol PP meminta pedagang eceran tidak lagi menjual BBM bersubsidi lebih dari Rp7.000. Jika masih membandel Disperindag mengancam akan melaporkan pedagang eceran ke polisi untuk diambil tindakan tegas.
Dulu saya pernah ke Bengkalis untuk membela hak-hak rakyat Pambang. Terkenanglah oleh saya 50 tahun yang lalu. Dalam bayang-bayang saya alangkah indahnya Pak Bangau yang dapat memikul beras dua goni. Dari kejauhan tampak pula Pakih Gani membawa koper besinya. Begitu keramatnya Pakih Gani kalau dia masuk kedai langsung dia membuka laci toke dan kalau mau ambil duit berapa saja akan direlakan oleh toke, karena konon Pakih Gani keramat, makin banyak duit diambil makin besar pula pintu rezeki dibuka. Hanya kata-katanya yang paling saya ingat sampai sekarang Nambah-nambah kerje, hamput mak kerje.
Membaca lagi berita selanjutnya, apa kata Kepala Disperindag Illyanto? Kita akan upayakan untuk melakukan pencatatan terus hingga kondisinya normal. Kita berharap SPBU turut membantu mengantisipasi pihak-pihak yang mencoba melansir. Petugas SPBU pasti tahu siapa yang sudah mengisi termasuk berapa kapasitas tangki kendaraan. Apa hasilnya? Dari pencatatan nomor polisi kendaraan roda empat itu Disperindag hanya menemukan satu mobil pick-up yang mencoba mengisi kembali BBM.
Bertitik tolak dari cerita Pakih Gani, Tak ada kerje, hamput mak kerje, bangga jugalah saya dengan usaha dari Disperindag ini. Cuma saja, manalah mungkin setiap mobil masuk dicatat nomor platnya, pakai tulis di kertas pula lagi. Untuk satu SPBU saja dah pening kepala Satpol PP ini mengecek nomor plat polisinya kalau-kalau ada yang sama. Apalagi SPBU ini tidak hanya satu di Rengat tu do, mungkin saja mereka ini mengisi tiap sebentar di SPBU yang berbeda, macam mane nak mengeceknya, tak ade keje cari keje hamput mak keje.
Nah, akan teruskah Chevron mengibuli kita sementara Pertamina yang sejarahnya koruptor dan menteri sumber minyak yang tidak kompeten menyebabkan semua warga harus antre di negara penghasil minyak ini? Jawablah oleh Anda sendiri… Selamat menderitalah hidup di Riau.
CAWALKOT
RIAUPOS > Sunday, 20 Mar 2011 | Posted by ADMIN
Terpaksalah baju kaus saya ini diganti dengan kaus yang lebih besar, perut saya buncit nampak juga, sekalipun baju ini telah ditukar XL, seperti Pak RT pun menunjukkan baju jasnya. Pak RT berapa baju dapat? 20 dan satu jas. Pak RT pun menunjukkan kepada saya jasnya warna hitam dengan di belakangnya tertulis Tim Sukses Tenayan Raya dan di dada sebelah kiri gambar calon wali kota dan wakil.
Sayapun telah menulis pemilihan wali kota-wali kota yang dulu. Mulai dari Tengku Ilyas sampai Oesman Effendi Apan, waktu itu lobi politik saya kuat, sehingga ketika Oesman Effendi Apan akan menjabat kedua kalinya sayapun bicara dengan Soeripto “Pie Tab”. Dengan ringan saya menjawab “Wali Kota Medan juga, Bachtiar orang Melayu yang dari RPKAD ketika kedua kalinya berhasil baik membangun Medan bahkan berhasil lagi memberikan corak Melayu pada kota Medan”. Sayapun menulis di Riau Pos yang bunyinya begini “Saya masih ingat zaman dahulu, adalah senior di kota yang namanya Datuk Harun, ada lagi Tengku Bay, ada lagi Tengku Ilyas dan yang tak asing lagi Datuk Wan Abdurrahman. Waktu itu belum ada lagi DPRD Kota, jadi pemilihan wali kota tak ada lah, dan tak lah berebut. Tengku Ilyas yang menjadi wali kota pertama di Pekanbaru ini, hanya karena Datuk Wan Abdurrahman sibuk kalau tidak salah saya nak mengawinkan anak, karena itu “Mike ajelah”, kata Pak Bay kepada Tengku Ilyas, padahal kalau diingat-ingat Tengku Bay ini dari Rengat, Datuk Wan dari Siak sedangkan Tengku Ilyas dari Pasir.
Sehabis saya mengajar, rupanya ada undangan dari Panitia Pelaksana Deklarasi Pasangan Bakal Calon Wali Kota Septina Primawati dan Bakal Calon Wakil Wali Kota Erizal Muluk. Esoknya keluar berita “Ribuan masa yang tergabung dalam berbagai elemen masyarakat memadati purna MTQ Pekanbaru. Mereka berkumpul sejak pukul 10.00 WIB, Sabtu (12/3/11) dalam rangka menghadiri deklarasi pasangan Septina Primawati Rusli-Erizal Muluk sebagai calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pekanbaru 2011-2016. Dalam deklarasi tersebut juga diluncurkan akronim pasangan tersebut ‘BERSERI’ kependekan dari Septina Erizal. Hadir dalam deklarasi tersebut sejumlah petinggi partai pengusung, yakni Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Gerindra. Septina selain didampingi Erizal, juga didampingi suaminya yang merupakan Gubernur Riau M Rusli Zainal. Uniknya, Ketua DPD Partai Demokrat (PD) Riau Raja Mambang Mit juga hadir, namun dalam kapasitas sebagai Wakil Gubernur Riau. Panitia memang mengundang sejumlah kepala daerah, termasuk Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah, namun tidak hadir.
Mengenai calon wali kota wanita tampaknya memang hebat walaupun Riau termasuk golongan Bapak (patriachat). Tapi pencalonan wali kota wanita memang mendapat reaksi yang keras dari masyarakat. Basrizal Kota, Ketua IKMR pagi-pagi telah menyatakan reaksinya agar dipandang juga golongan wanita ini, tentu saja maksudnya bukan karena Septina golongan wanita.
Begitu hebatnya pencalonan Septina inipun ditayangkan di MetroTV. Apa beritanya? “Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Riau mengecam perempuan menjadi calon Wali Kota Pekanbaru”. Menurut mereka, pencalonan perempuan tak sesuai dengan ajaran Islam. Itu ditegaskan anggota Komisi Ukwah MUI Riau, Muhammadun, Senin (14/3). Menurutnya, perempuan haram mencalonkan diri apabila masih ada laki-laki yang bisa menjadi pemimpin suatu negeri. Ia pun meminta perempuan Riau tak meramaikan bursa kepala daerah. Penegasan MUI itu diprotes seorang calon Wali Kota Pekanbaru Septina Primawati. Menurutnya, tak ada larangan dalam Islam terhadap perempuan yang ingin menggunakan hak politiknya. MUI Pusat saja, kata Septina, menerima pencalonan kaum perempuan sebagai pemimpin.
Dari masyarakat tampak pula reaksi terutama dari golongan mahasiswa. “Kali ini kita di bawah gubernur”. Begitu pula wali kota dan bupati menyesalkan langkah ini. Tapi apalagi nak dibuat, dah tecalon. Erizal sendiri bila lagi nak mencalon walaupun gambar professor Isjoni mendampingi dia, tapi tak juga ditawar oleh partai. Gambar Firdaus walaupun besar tak juga ditawar partai. Banyaklah paham dan pendapat Septina dan Erizal bakal duduk juga. Walaupun gambar Sulistiawaty Ningrum memasang nama sebagai calon Demokrat tak juga mendapat lamaran dari partai politik. Rusli Zainal memang dengan segala kekuatan ingin mengangkat istrinya menjadi wali kota melalui Ketua PPP Pusat, Suryadharma Ali. Zaman sekarang apa yang tak boleh. Ya..bantailah Pak, Selagi ada kekuasaan. Boleh tak boleh ya nantilah. Horeeee

Tidak ada komentar:
Posting Komentar