SISIFOS
RIAUPOS > Sunday, 13 Mar 2011 | Posted by ADMIN
Albert Camus, Le Mythe de Sisyphe
PARA hamba Yahudi dikerahkan untuk membangun piramida di Mesir pada zaman Firaun. Di gerbang kamp-kamp konsentrasi Auschwitz dan Dachau tertulis dengan kata-kata dalam bahasa Jerman yang berarti “Kerja itu Membebaskan”; dan sebelum dimasukkan ke kamar gas mereka dipaksa bekerja yang hasilnya menguntungkan penguasa Nazi Jerman. Dalam penjara Malaysia para pendatang haram dari Bangladesh, Thailand dan Indonesia mendapat macam-macam pekerjaan yang kelak ketika mereka dibebaskan diberikan upah sebagai hasil kerja dalam bentuk ringgit.
Demikianlah tenaga manusia diperhitungkan sebagai modal yang dapat menjadi upah. Pada gilirannya kelak tenaga dan upah dapat pula membiak sebagai laba kalau saja tersedia udara kebebasan untuk berkompetisi di dalamnya.
Namun ada contoh lain dari sebuah peristiwa pada masa Perang Dunia Kedua. Para tahanan Sekutu (baca: Inggris) yang dibawa secara paksa oleh tentara pendudukan Jepang ke suatu kawasan di sempadan Burma (sekarang: Myanmar) dengan Thailand harus membangun sebuah jembatan yang melintasi Sungai Kwai. Tentulah jembatan ini akan dipakai oleh penguasa Jepang untuk kepentingan perangnya.
Pimpinan POW (prisoner of war) atau tawanan perang itu memberi semangat kepada anak-buahnya agar bekerja dengan baik. Tentulah banyak anak-buah yang menyangka sang pemimpin barangkali seorang kolaborator musuh. Namun jambatan itu akhirnya siap juga dengan bagus. Akan tetapi segera setelah diresmikan dengan pesta sang pempimpin memerintahkan jambatan itu diledakkan. Apa ini? Sebelum transportasi tentara Jepang sempat melewati jambatan ini untuk pertama kali, karya gemilang ini pun dihancurkan dengan gemilang. Absurd!
Teman saya, seorang pengarang, pernah mempunyai gagasan untuk menulis sebuah roman yang mengisahkan tentang suasana absurd. Meskipun menguasai bahasa Perancis dan Jerman dengan baik namun ia mengatakan kepada saya bahwa ide ceritanya itu lebih berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri daripada hasil bacaan atas karya-karya orang orang semacam Albert Camus dan Friedrich Nietzsche. Sebab, kata teman saya itu, semua bahan bacaan cuma penting sebagai perangsang sedangkan nyawa karya itu sendiri harus diangkat dari pengalaman yang kita dapat dan jumpai di sepanjang jalan kehidupan.
Seorang raja sangat kejam (karena penasihatnya seorang pembisik jahat) mengumpulkan seribu orang pemberontak di sebuah pulau kecil. “Jangan bunuh mereka,” kata tuan penasihat kepada sang raja, “Siksa mereka dengan setinggi siksa!” “Apa itu?” Tanya sang raja. “Begini,” jawab tuan penasihat sambil berbisik.
Para pemberontak masing-masing diperintahkan menggali satu perigi dan membawa air perigi melalui tujuh bukit dan membuangkannya ke pantai. Pada hari ketiga separuh pemberontak minta dibunuh saja. Pada tahun ketiga jumlah mereka tinggal puluhan dan pada tahun ketigapuluh tinggal tujuh orang saja. Mereka bekerja membawa air dari perigi ke pantai dengan kegembiraan absurd.
Pemimpin pemberontak itu seorang pemuda mengajar para pemberontak yang masih bertahan hidup dengan inti filsafat yang dibacanya dari buku dan telah diuji dari kehidupan. Setiap pagi ketika matahari baru terbit mereka memulai kerja sambil berteriak gembira dalam bahasa asing, “Amor fati!” Setiap petang ketika matahari hendak terbenam dan waktu istirahat tiba mereka pun berteriak dalam bahasa asing yang lain, “Liebe zum Schicksa!” Kedua ungkapan bahasa asing itu artinya lebih kurang “Mencintai nasib!” Kedua bahasa asing itu tak dipahami samasekali oleh si raja dan penasihatnya. Salah-seorang pemberontak yang berbakat sebagai musikus menciptakan sebuah lagu, hanya satu lagu, yang mereka nyanyikan ketika bekerja.
Raja kejam dan pembisik jahat hidup tersiksa karena tiada kekejaman lebih tinggi yang dapat diciptakan lagi. Keduanya mati dimakan kesedihan. Penggantinya, seorang raja baik, memberi ampun kepada para pemberontak yang tinggal tujuh orang. Enam di antaranya menerima ampunan dan kembali ke kampung halaman. Seorang meninggal dalam perjalanan pulang. Seorang yang lain mencuri perahu milik penduduk dan berlayar entah ke mana. Dua orang diangkat menjadi kepala kampung dan mengatur kampung itu dengan baik. Dua orang lagi menggali perigi di bukit dan membawa air ke pantai dan mencurahkannya di sana satu kali sehari.
Cuma sang pemimpin, yang sudah berusia 59 tahun, yang menolak. Seorang diri ia hendak habiskan sisa umurnya dengan keriangan yang sungguh-sungguh absurd. Tempat itu sekarang diberi nama Pulau Seribu Perigi dan Pantai Air Tawar. Hanya nama. Tapi yang lebih penting bila roman teman saya itu rampung!
SAPHO
RIAUPOS > Sunday, 20 Mar 2011 | Posted by ADMIN
TEMPAT kelahirannya di sebuah pulau, selalu (dihubung-hubungkan) orang dengan para perempuan di zaman dulu yang melaksanakan cinta sejenis. Dan sajak-sajak Sapho juga mengisahkan bahwa dia pun memang ikut dalam arus besar perbuatan yang bertentangan dengan aturan alam itu.
Pulau Lesbos atau disebut juga pulau Mitilena itu luasnya 1.831 kilometer persegi, dan sekarang berpenduduk 97 ribu jiwa. Pulau ini menjadi sangat terkenal karena di sinilah Sapho dilahirkan dan menjalani hidupnya yang singkat. Siapa Sapho?
Namanya ditulis dengan berbagai cara: Sapho atau Sappho atau Saffo atau Safo atau Psappho. Penyair perempuan bangsa Yunani ini dilahirkan di pulau Lesbos (tempat asal kata lesbianisme) pada tahun 610 Sebelum Masehi dan meninggal dunia pada tahun 580 Sebelum Masehi. Jadi cuma tiga puluh tahun usianya.
Sembilan bukunya yang berhasil dikumpulkan orang semuanya hanya berupa fragmen-fragmen, tidak utuh. Terlalu banyak perhatian orang-orang di luar sempadan kesusastraan pada suatu bagian kehidupannya, yaitu pengamalan lesbianisme. Begitu berkesankah soal seksual menyimpang ini sehingga seperti tak penting berapa sebenarnya sajak-sajak yang diciptakan oleh perempuan ini. Namun bagi pencinta sejarah sastra berapa dan apa-apa saja karya Sapho itu penting sekali.
Ketika membaca riwayat dua orang penyair Jepang pada zaman Heien (794-1185 Masehi) yaitu tentang diri Ono no Komachi dan Izumi Shikibu dalam The Ink Dark Moon, nama Sapho pun disebut oleh Jane Hirshfield dan Mariko Aratani (penerjemah dan penyunting buku) sebagai sandingan dan bandingan yang amat jitu. Para perempuan dalam istana Jepang zaman dulu rupanya ada juga bermain sumbang menentang alam. Dalam bahasa Jepang pengamalan lesbianisme itu disebut onna no doo-sei-ai yang terjemahan dalam kamus pegangan saya sehari-hari yaitu: homosexuakite feminine.
Dalam istana Kamboja pun, sebagaimana digambarkan oleh penulis Roland Meyer dalam romannya Saramani –Danseuse cambodgienne (1922) para penari yang baru datang harus menjadi ‘’adik’’ dalam pergaulan di paseban tari, sementara para penari yang lebih dulu datang menjadi ‘’abang’’.
Sebenarnya di kalangan perempuan Melayu pun pengamalan berseronok-seronok seksual sesama perempuan ini ada dikenal. Kalau tidak mana mungkin pakar budaya seperti Richard James Wilkinson mencatatnya dalam A Malay-English Dictionary (1932) yang menjadi induk dari sekian banyak kamus. Dalam kamus ensiklopedis itu ia menerangkan arti figuratif ‘’tampok labu’’ sebagai ungkapan untuk menyatakan tentang ‘’clitoris’’, dan ‘’main tampok labu’’ yang juga disebut ‘’main abau’’ bahasa Latinnya ialah amor lesbicus. (Abau ialah sejenis penyu yang hidup di rawa atau paya; tak ada keterangan apakah abau itu memang suka melakukan hubungan seksual sejenis). Para pujangga Melayu masa lampau barangkali terlalu hendak bersopan-sopan sehingga tidak memberitakan adanya pengamalan lesbianisme dalam masyarakat. Bahkan Raja Ali Haji yang banyak menghasilkan syair-syair naratif penuh seronok dan mendebarkan seksual itu pun tidak memberikan keterangan sedikitpun tentang ‘’main abau’’ atau ‘’main tampok labu’’. Ada apa?
Main tampok labu @ main abau @ lesbianisme @ saphique (adjektiv bahasa Perancis) @ Sapphic (adjektiv bahasa Inggris) dapat pula ditelusuri lebih jauh jejaknya pada masyarakat Amazon yang ada dikisahkan dalam mitologi Yunani lama.
Seandainya Sapho tidak ikut dalam arus besar kebiasaan (Buruk? Aneh? Jorok?) para perempuan di Pulau Lesbos pada masa kehidupannya yang mengamalkan cinta dan atau hubungan seksual sejenis, dia akan terus dan tetap dikenang sebagai penyair. Karena itu tidaklah terlalu penting apakah Sapho itu seorang pengamal lesbianisme atau tidak karena yang lebih penting yaitu apakah Sapho itu berkarya atau tidak.
Anda tahu berapa buah sajaknya yang utuh diwariskan kepada dunia kesusastraan? Satu! Cuma satu! Satu sajak yang terdiri dari 28 baris. Selain itu semuanya cuma fragmen-fragmen sajak yang untunglah sering disitir oleh para penyair yang hidup sesudah masa hayat Sapho, sampai berabad-abad lamanya.
Sapho sebagai penyairlah yang dipuji-puji oleh penyair antipater dalam sebuah sajak yang menempatkan dia sejajar dengan sembilan dewi-dewi kesenian dalam mitologi Yunani; salah-seorang dewa mengalungkan bunga yang tak tahu layu pada rambutnya yang berjalin, dan seorang puteri dari dongeng memintalkan benang untuk dijadikan pita pengikat rambutnya. Sajak-sajaknya yang khas terdiri dari sebelas silabel menyebabkan namanya melintasi abad-abad sampai ke hari ini.
Untunglah Antipater, lelaki dari Sidonia itu, tak ambil peduli siapakah kekasih Sapho, lelaki atau perempuan.
Alangkah kuatnya karya sastra, apalagi puisi, lebih tahan masa daripada bangunan manapun yang pernah ada. Bangunan mana dari abad ke-5 Sebelum Masehi yang masih sesegar sajak-sajak Sappho? Coba sebutkan satu saja kalau ada!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar