BIJAK DI AWAN
RIAUPOS > Wednesday, 9 Mar 2011 | Posted by IDRIS
Peralihan dari peristiwa masin menjadi tawar, pada sebuah zaman yang telanjang. Peralihan itu berbungkus baju istana dan kebenaran demagogi. Dan Melayu pun mengalami proses individuasi pada diri perorangan.
Bahwa kebijaksanaan kolektif yang menjadi milik bersama dan tersadai di pangkuan masyarakat tradisi, diragut dan “dirampok” menjadi milik para paduka yang beristana di awan.
Sesuatu yang berpembawaan masin secara alamiah, bersalin menjadi tawar. Begitulah nilai Melayu telah terpersonifikasi pada diri individu. Kebijaksanaan itu telah mengalami pelembagaan “formal” oleh pelaku kebudayaan.
Usia menua juga berpengaruh pada gempita puja dan puji hari ini. Pada ketika itulah manusia mabuk membongkar, menggali apa-apa yang dianggap jasa masa lalunya, puncak gunung masa lalu, apa-apa yang dianggap mustika masa lalunya.
Kemudian dihidang dalam format kekinian, dikemas dalam sorak sorai sebagai peneguh atas kelakuan mulia (white history) seraya membenam dalam-dalam dimensi abu-abu (black history) yang melekat di hayat perjalanan biografis.
Ikutannya, dalam bentuk impression management atau pengelolaan kesan, sehingga masyarakat memperoleh kesan yang serba baik dan kemilau ke atas sosok pribadi ini dan itu.
Manajemen kesan ini sedang mabuk-mabuknya di era yang sebagian besar awam menjulang segi-segi pencitraan. Tokoh-tokoh kita yang sejak zaman ketumbar menaiki pentas, seolah tak ikhlas kehilangan pentas atau berbagi pentas dengan kaum yang lebih muda.
Mereka seakan menolak hukum alam (natural law/ sunatullah), bahwa proses menua, juga adalah pertanda pentas yang dinaiki berwarna senja menjingga dan sudah saatnya menggulung layar. Cukup di belakang panggung. Nyatanya, kita adalah sederet manusia yang gamang kehilangan pentas.
Manajemen kesan, tak bisa lepas dari serangkaian kenduri dan upacara serba menyerbuk wangi dan mengedepan wajah istana sentris. Para tokoh sengaja kita giring menjadi pengantin sepanjang hayat, sehingga tiada karya besar yang dihasilkan dari pangkal hati.
Semua karya kebudayaan dihajatkan untuk sebuah pameran besar ekstravaganza yang kemilau dalam selimut penguasa. Dan para penguasa pun harus meluncurkan kata puja dan puji kepada sosok tokoh.
Seolah tiada tokoh lain dalam kebudayaan yang lebih besar. Padahal tokoh besar-besar itu, senantiasa bertindak senyap dalam kesunyian kebudayaan. Mereka menghindari gegap gempita upacara dan kenduri-kendara yang hanya habis di ujung gemuruh tepuk tangan para undangan dalam sebuah majelis simbolik apakah itu pelancaran buku atau ulang tahun pernikahan emas.
Begitulah cara Melayu mempaduka diri dalam ruang kekinian. Setelah segala perkakas beraroma bijak dan bajik diambil dari ladang sejati bernama rakyat jelata dan komunitas penikmat idaman kolektif, paduka kebudayaan lalu membangun “tembok” dan berjarak dengan sumber bijak itu. Kebijaksanaan itu pun telah menjadi milik perorangan sang paduka.
Pada tahap ini proses individuasi terjadi secara serampangan sekaligus mendistorsi sejarah. Lalu, sejarah ditafsirkan secara tunggal. Segala ihwal yang tak seronok dalam pertimbangan pribadi, kuplet, cuplikan yang tak menguntung Melayu dari sudut cahaya kekinian, mengalami suntingan, mengalami bentukan baru, sehingga terkesan Melayu itu serba halus, santun dan fine.
Padahal tak ada kebudayaan yang 100% fine, halus dan santun. Dimensi garang, cergas, tegas yang terkadang menghalangi bentuk kesantunan awam, juga diperlukan oleh sebuah kebudayaan ketika dia hendak diperhitungkan oleh kebudayaan yang bersebelahan dengan kebudayaan Melayu.
Nyatanya, kebudayaan Melayu hanya sibuk mengurus perihal santun dan kesantunan. Seolah-olah, kebudayaan tinggi itu adalah kebudayaan yang menjunjung kesantunan saja.
Jika hendak diperiksa secara kritis, apakah bentang kesantunan yang diidamkan pada hari, adalah sebuah cara untuk menutup ketidak-santunan kita di masa lalu? Atau sebuah garis yang memisahkan masa lalu yang belum santun dengan masa kini yang serba santun di awan?
Kebudayaan Melayu hari ini telah menjadi milik individu dan diperkuat melalui model patron perorangan. Seolah kebudayaan ini merindukan seorang paduka yang bertahta, berhias di peterakna. Indah dan molek dilihat, tapi tak memiliki getar dan daya apa-apa bagi kehidupan nyata.
Dia tak lebih dari serangkaian abstraksi yang tak mungkin dijadikan realita sosial, apatah lagi menjadi tatanan sosial. Kita diseret dalam kemabukan dan ekstase individu mengenai alamat normatif dan nilai tentang kebudayaan.
Kita mendaraskan kebudayaan itu bagai firman perorangan, dan sang penurun firman itu seakan harus melekat dengan kekuasaan. Walhasil kebudayaan jatuh dari langit, turun dari awan melalui tangan seorang ‘nabi’ kebudayaan. Inikah yang dibangga-banggakan Riau? Melayu?
Berikutnya adalah teater. Ya, pentas teatrikal para tokoh yang mempertunjukkan serial jasa dan karya masa lalu yang dah mati dalam benaman kebenaran tunggal, tafsir tunggal dan sejarah serba tunggal.
Teater itu sengaja dipersiapkan jauh-jauh hari: “orang dan negara luar aja memanfaatkan nira, masakan di tanah sendiri tak dapat tempat”?. He he… kalimat klise dan filmis ini ramai menghias ruang dan dada media di Riau.
Kita lupa, jauh sebelum ini betapa banyak anak-anak Melayu yang berkarya di negeri orang dan malah tak kembali dan diakui sebagai salah satu avant garde; sebut saja pelukis Salim yang bermukim di Paris dan wafat di Paris adalah bunga Melayu di benua biru.
Dia anak Bagan, dan lebih dari setengah abad hidup dan pengabdiannya bagi seni lukis dan membuat pilihan untuk bertarung di Paris. Itu sosok tua dan baru wafat, mendapat liputan khas dari majalah Tempo tahun lalu.
Bagaimana dengan sosok muda belia yang hari ini sedang berjuang di perguruan tinggi ternama di Singapura. Juga tak sedikit anak-anak asal Riau. Dan mereka memiliki nira pencapaian dalam daras masa kini dan malah “kini bangat”.
Sosok ini sepi dari liputan dan gempita kenduri atau upacara. Era tahun 80-an ada sosok Djali Ahimsa (juga anak Bagan) yang menjadi Direktur Badan Tenaga Atom Nasional.
Juga menjauhi segala pekik gempita kenduri-kendara. Ada anak Riau yang jadi peneliti di laboratorium kelautan di Jepang, juga menghindari gegap gempita sorak istana sentris.
Lalu, kanapa kita terbirahi dengan gairah upacara seorang tokoh yang mendaku-daku paling berjasa dan paling berbuat untuk Melayu?
Apakah kita tengah mengalami sindroma sejarah dengan penafsiran tunggal? Dan betapa dangkalnya peristiwa kebudayaan itu ketika dipersepsikan sebagai serangkaian upacara dan penanaman kesan pada satu sosok yang sebenarnya tak berarti sama sekali dari segi subsatansi kebudayaan.
Socrates, Plato, tetap bergayut pada dunia senyap, menjauhi segala hura-hura upacara. Tapi, dunia dia lukis hingga berderai, berjulur dalam pemikiran besar hingga hari ini. Kita harus mengelak dari anak Melayu yang tergila-gila dengan serangkaian majelis upacara dan perilaku mendaku-daku. Kita yang sejauh ini mengelak dari tindakan narsis, malah kita menjadi lebih narsistik dari tokoh politik.
Berhenti atau tetap meneruskan kebodohan? Hehehe…
HIJAU KE COKLAT?
RIAUPOS > Sunday, 13 Mar 2011 | Posted by ADMIN
Kota ini penuh ragam slogan, klaim tentang upaya dan ihwal serba hijau. Ikutan generik dari hijau itu menjadi rimbun, menjelma dalam kenyataan berbunga, berputik dan berbuah. Pada ketika itulah sebuah ‘aras pagi’ dan ‘horison senja’ yang sejuk kemayu berpadu menjadi satu untuk ‘kemuaian gelora’ kehidupan segala makhluk pada sebuah kota. Bahwa kota bukan tempat hidup manusia semata. Dan hijau melayani hidupan liar di luar diri manusia di sebuah kota yang gemeretap.
Slogan berkata hijau, tindakan menjelma jadi coklat. Pepohonan yang berusia puluhan tahun menjadi taman memanjang di sebuah jalan protokol, menjadi mangsa dari nafsu-nafsi slogan hijau menuju coklat. Bentangan taman memanjang ini begitu cedera oleh serangkaian beban sejak dari pangkal hingga ujung. Di atas bentangan garis hijau di sebuah badan jalan protokol, di celah pepohonan yang menjadi garis tengah, pagar besi menancap dan memberi efek keras. Di tengah taman memanjang itu, para penjual asongan dan peminta sedekah berjulur memenuhi titik strategis. Garis hijau itu juga ditutupi segala bentuk papan uncapan selamat sejak pernikahan, kematian, aqiqah, pelantikan, peresmian toko, bank dan warung runcit sekalipun. Sehingga pacak-pacakan papan ucapan selamat itu telah mencederai wajah taman kota nan molek, sekaligus menjadi simbol pusat wibawa.
Garis jalan protokol yang hijau, resik, rimbun dan berbunga itu adalah halaman muka sebuah kota. Sekaligus pelantar jiwa warganya. Semakin kemas dan cantik garis jalan protokol sebuah kota, adalah gambaran cantiknya suasana jiwa dan hati warga penghuninya. Semakin semrawut taman memanjang di garis jalan protokol, anda bayangkan sendiri bagaimana warga dan corak pemimpin kotanya. Walhasil, kota ini dirancang dan dibangun oleh para pedagang. Bukan para peniaga yang berselera tinggi. Pemerintah dan warga yang bermutu tidak hadir dalam ‘penghadiran’ kota ini. Dia seakan terlepas dari hiruk-pikuk kemauan besar menjadikan kota ini sebagai kota hijau dan berbunga, yang memuliakan manusia dan segala makhluk hidup yang menumpang teduh.
Slogan kota berujar mengenai gerakan hijau dan penanaman. Namun, sehari-hari kita menyaksikan kematian dan kehilangan pepohonan yang meninggi, jadi pandak dan sirna. Tiang-tiang hidup dan hijau itu berganti dengan tiang-tiang masif, mati dan menyesak kaku, bernama tiang-tiang jembatan yang melintang di atas kepala. Tiang-tiang mati (fly over atau pun jembatan di atas permukaan jalan raya), bakal menjadi pangkalan sektor informal berteduh. Begitu pula anak-anak tunawisma, kejahatan sosial dan seksual akan berspora di kolong-kolong jembatan. Juga menjadi tempat berkumpul untuk mengelak deras terjunan hujan bagi pengendara roda dua, ketika musim hujan jatuh dan berderai.
Bagi pelaku bisnis yang telah membangun gedung-gedung tinggi di sepanjang jalan protokol, kehadiran tiang jembatan vertikal atau fly over, adalah simbol kiamat niaga. Hotel, perkantoran swasta, sektor ritel dan rumah makan, bakal mengalami kematian usaha. Sebab bangunan mereka berada di bawah permukaan jalan dan dikepung oleh pagar tiang-tiang jembatan. Jalan layang itu, sekaligus melayangkan debu, abu, sampah-sampah ringan. Bagi para demonstran, mudah diprovokasi menuju anarkhis, ketika mereka menaiki jembatan layang, menghadang pejalan di lintasan atas seraya menjatuhkan segala benda sejak ukuran ringan sampai berat (drum) ke permukaan jalan protokol yang berada di bawahnya. Sebab, jarak antara fly over itu dengan pusat pemerintahan dan gedung instansi penegak hukum, perbankan, demikian dekat. Berhajat untuk mengurai kesesakan lalu lintas, malah melahirkan persoalan baru dan kian rumit di masa depan.
Di kota-kota yang lebih maju dari kita, fly over selalu dibangun di sudut kota dan dia menjadi bagian dari perturakan lintasan dalam dan luar (interchange) menuju akses jalan lingkar luar (outer ring road). Jakarta, memiliki ruas Thamrin-Sudirman sebagai jalan protokol dan sekaligus pusat wibawa, tak sebatang tiang fly over yang mengangkang jalanan ini. Sebab dia bakal menghembat segala jenis taman bunga tempat “hinggap mata” para pengendara di sepanjang jalan yang melelahkan itu. pengadaan ruang putar semanggi, adalah bagian dari elemen taman itu sendiri. Dia bukan fly over yang terpisah dengan taman. Dan mungkin tak terbayangkan bagaimana pada sebuah ruas jalan protokol yang pendek seperti jalan Sudirman di Pekanbaru terbentang dua titik fly over pada pelintasan yang amat sempit itu. Dia bakal menjadi kebanggaan mentalitas inferior. Menjadi masalah besar bagi pembangunan kota yang tak terkendali. Inilah akibat dari perspektif pendek kita mengenai ruang-ruang kota yang terbiarkan di pinggir-pinggir kota yang berbatasan dengan kabupaten tetangga, baik Siak maupun Pelalawan.
Ada semacam credo pembangunan Pekanbaru: Jika tak menyentuh kawasan Sudirman seakan tak sah pembangunan itu. masih banyak ruang tersisa yang tak tersentuh oleh pembangunan di kota ini. Kita membangun segala-galanya di sebatang pangkal jalan bernama Sudirman. Dan kita pun menimpuk keinginan antara hijau dan coklat juga di sepanjang Sudirman. Karena segala aset pembangunan itu berada di sepanjang jalan ini, maka jangan salahkan terjadi penumpukan kenderaan di titik yang sama. Kesesakan pun tak kan pernah terurai dari sejarah jalan ini. Keinginan menjadi hijau yang senantiasa berubah coklat itu, tak lebih dari kecelaruan berfikir sekaligus kedangkalan pemikiran pengelola kota.
Pemerintah kita hanya mengutak-atik APBN dan APBD dan menjalaninya secara rutin dan kaku. Rutinitas ini hanya menjelang kematian dan kematian baru. Kata hijau itu sendiri seakan melepas zat maknanya ketika di atas kertas atau kebijakan berjarak dengan kenyataan dan tindakan lapangan. Kita menyaksikan sebuah kota yang bisu, gagu dan tak menghadirkan “rasa” kepada manusia sdebagai penikmanya. Pohon bertumbangan, kemacetan tak terurai, pembebasan lahan di sisi kiri dan kanan fly over tetap diperlukan. Artinya, tanpa fly over pun masih ada jalan keluar untuk menyelesaikan kemacetan. Belajarlah dari konfigurasi persimpangan Sudirman-Arifin Achmad, yang tak mengenal macet. Sediaan garis lengkung separuh parabola, membuat gerak kenderaan lancar, sekaligus juga menghadirkan taman tengah yang molek secara tresterial. Jika bisa hijau, kenapa menuju coklat masif dan mematikan?
JALAN BUNTU
RIAUPOS > Sunday, 20 Mar 2011 | Posted by ADMIN
Kota bukan peristiwa sebatang jalan. Apatah lagi ketika sebatang jalan itu berstatus jalan buntu. Berapa lama kota Pekanbaru disiksa oleh pemandangan jalan buntu yang berujung pada tebing sungai. Jalan buntu itu menyiksa dirinya sendiri, karena jalan itu merangkap jalan protokol, jalan arteri atau jalan utama di kota ini. Di batang jalan inilah zero ground (kilometer nol) kota terpacak. Tapi, jalan ini tak lebih dari sebatang gang buntu. Orang luar yang baru pertama berkunjung ke kota ini, memiliki file yang terang benderang, bahwa kota Pekanbaru adalah kota sungai. Terletak di tepi sungai nan dalam. Namun, ketika tiba di kota ini, orang sama sekali tak bisa menyaksikan liuk cantik sungai secara sempurna. Sungai seakan laman belakang kota ini. Maka kota ini tak layak disebut sebagai kota yang “menghidupi air”. Akan tetapi, kota ini hidup dari air yang salah.
Kenapa takut meninggalkan area Pekanbaru tua yang hari ini mencakup kawasan Senapelan lama dan pasar pusat? Kenapa pemerintah kota tak pernah bermimpi memindahkan ibukota pemerintahan di luar garis kawasan tua ini? Misalnya ke Limbungan atau Okura? Kota bukan peristiwa meninggi dan menungkai yang ditandai pengadaan gedung-gedung jangkung. Kota adalah peristiwa sekat-sekat horisontal yang memberi ruang gerak dinamis bagi warganya, bagi manusia dan segala hidupan yang menumpang di atasnya. Sekat-sekat horisontal inilah yang melayani gerak tresterial manusia dengan sisi sosialnya. Gerak manusia dalam ruang vertikal seakan menghadirkan zombie waktu yang kaku, dingin dan terkesan anti-sosial.
Jalan buntu itu telah menjalani tugas sejarah yang panjang. Dian tidak menjelaskan tentang “mengapa” jalan itu terjadi. Yang disediakan oleh sebuah jalan buntu adalah penjelasan “bagaimana” manusia menelikung dan bergerak untuk mengelak dari kejatuhan, mengelak dari benturan dan menyudahi sebuah perjalanan yang tidak semestinya selesai. Kehadiran sebatang jalan protokol dengan status jalan buntu inilah yang menjadi inspirasi pengembangan kota ini dengan gaya sporadis dalam model ledakan ‘pecahan jerawat’. Lihatlah kawasan nan luas di kawasan barat Pekanbaru, dihuni oleh pemukiman yang lebar, padat dan tidak dihubungi oleh garis-garis jalan nan tegas. Semua jalan dan jari-jari jalan saling tak bersambung alias menggantung. Inilah efek kawasan yang dibangun dengan model efek “pecahan jerawat”. Dan fenomena ini dapat kita saksikan di kawasan Panam, Rumbai, Tenayan dan beberapa kantong pemukiman di kawasan batas kota dengan kabupaten jiran.
Jalan dan jari-jari jalan yang menggantung dalam model “pecahan jerawat” ini terjadi karena para pengembang perumahan membangun koloninya masing-masing dalam kantong-kubah bentang lahan. Pemerintah tidak hadir untuk mempertegas singgungan garis-garis jalan dengan kantong pemukiman yang berada di sebelahnya sehingga garis jalan itu menjadi tegas dan tidak menggantung. Inilah wajah kota yang dibangun bagai letupan kembang api. Setiap kembang api merayakan pecahan “panah apinya” masing-masing untuk pandangan mata manusia dalam kandungan ruang malam gelap yang tak mengenal garis batas.
Sebaliknya, kandungan pemukiman dengan garis menggantung dalam model efek ‘pecahan jerawat’ itu terhidang dalam sebuah bentangan ruang yang menghargai atau memang seharusnya menghargai garis-garis sempadan dan sekaligus menjunjung prinsip-prinsip kepemilikan publik dan privat yang bersebelahan dengannya. Di sinilah negara, dan pemerintah seakan mengelak dan absen. Dia memerankan diri selaku pemain judi, bagian dari spekulan yang bermain dalam ruang serba temaram, kalau untung ya untung dan kalau rugi tanggunglah bersama oleh kalian (wahai warga).
Jika jeli, teliti dan cermat, berapa batang jalan yang berstatus sebagai jalan buntu yang berada di kota ini? Walau belum begitu sempurna, lakukan melalui “mesin pencari” Google, dan lacaklah: map of Pekanbaru. Anda akan terkejut, bahwa kita adalah bagian dari warga yang bermukim dalam sebuah kota yang di dalamnya terkandung garis-garis jalan yang menggantung. Dia berstatus sebagai kantong atau benteng bagi spora kejahatan sosial. Karena di ujung garis yang menggantung, segala perbuatan vandalisme, kekerasan, penjambretan, perampokan, mudah bersarang. Di ujung jalan yang menggantung segala pelaku tindak kekerasan sosial, dengan enteng bisa menyudahi dengan cara “melenyap”, “penghilangan” dan malah meng-alibi-kan diri. Sebab garis jalan yang menggantung adalah bagian dari sebuah kisah mengenai “penyudahan”, “penyelesaian” dan menggantikannya dengan “peran-peran baru”. Di sana ada dan tersedia kamar gelap atau kamar ganti pakaian atau kamar ganti watak @ peran. Berikutnya, di pangkal jalan penelikungan itu, para pelaku kejahatan dan kekerasan sosial itu muncul kembali dengan wajah manusia dan bila perlu bertabiat malaikat, menjelang memperoleh mangsa baru untuk tindak kekerasan sosial berikutnya. Begitulah pengulangan-pengulangan itu terjadi.
Di sebuah ujung jalan yang menggantung dan buntu, kehidupan kota seakan berhenti berderap. Dia hanya menghadirkan ‘layar kehidupan’ yang asing dan berjarak dengan dinamika kehidupan urban. Di sini terbangun sebuah abnormalitas dalam bisu. Dalam bisu, senyap dan gagu, kehidupan berlangsung tanpa dialog urbantude (tabiat madani). Di sini segalanya sudah, segalanya selesai dalam diam dan senyap. Di sini, bertanya dan pertanyaan, dialog atau debat segalanya terhenti.
Dari sini kita secara tak sadar telah membangun peradaban kota yang egois, sebuah kota yang tak bersambung dengan ‘rasa-rasa’ nan lain yang berada di luar garis sempadan kota ini. Di sini, kita menghentikan segala kaidah hidup bersama dengan para tetangga yang hidup di wilayah administrasi berbeda. Kita terpenjara dalam sebuah “pulau kehidupan” yang menjadikan kita sebagai makhluk alien dengan ruang-ruang tanah lain yang semenda sejatinya adalah kampung-kampung Melayu yang berada di Pelalawan dan Siak. Kita menumpang pada garis-garis jalan nasional yang menghubungkan Pekanbaru dengan kampung-kampung Melayu yang berada di Siak dan Pelalawan. Artinya jika tak ada jalan nasional yang melintas, maka tak ada ikhtiar dari diri sendiri untuk menghubungkan kota Pekanbaru yang mengklaim diri sebagai pusat kebudayaan Melayu ke hulu-hulu “mata air” tradisi Melayu bernama kampung-kampung Melayu di Siak dan Pelalawan dan seterusnya.
Ketika ini diungkai secara cermat, kita pun menjadi gamang, bahwa status klaim sebagai pusat kebudayaan Melayu itu tak lebih dari sebuah fenomena klaim sepihak. Jika diibaratkan Pekanbaru itu adalah muara atau samudera kebudayaan Melayu, sejatinya dia memiliki garis-garis yang jelas dan tegas dengan sumber-sumber “mata air” tradisi dan kebudayaan Melayu yang berada di hulu bernama kampung-kampung Melayu. Jika kaidah ini disepakati, maka kita pun layak bertanya, selama ini di mana hulu tempat “mata air” tradisi dan kebudayaan Melayu yang menjadi sumber “mata air” kebudayaan Melayu bagi Pekanbaru? Kita pun pantas meragukan segala tindak perbuatan dan kearifan Melayu yang berlangsung di kota ini, rupanya hanya sebuah akal-akalan para konstruktor yang mengklaim diri sebagai Melayu; seolah santunlah yang menjadi fiil Melayu sejati. Berhentilah dalam gairah yang serba buntu…


Tidak ada komentar:
Posting Komentar